Mengungkit Sejarah Perang Dari Ayam Taliwang

Kuliner —Selasa, 10 Aug 2021 10:08
    Bagikan  
Mengungkit Sejarah Perang Dari Ayam Taliwang
Image/ Pinterest

LOMBOK, DEPOSTMANDALIKA

Ayam Taliwang adalah makanan khas Pulau Lombok dari Kampung Karang Taliwang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Nama Taliwang diambil dari nama Desa di Kota Mataram. Masakan bernama ayam taliwang ini merupakan kuliner yang pertama kali diperkenalkan oleh masyarakat Karang Taliwang.
Namun, apakah kawan-kawan sudah tau bahwa ayam taliwang ini memiliki sejarah yang sangat berharga? Jika kawan-kawan belum tau sejarah nya, mari kita bahas bersama agar kita semua bisa melestarikan budaya Indonesia lewat menghargai dan meneruskan ke generasi berikutnya.

Sejarah ayam taliwang dimulai dari runtuhnya kerajaan Majapahit pada 1478, menyebabkan kerajaan Geigel di Kelungkung, Bali, mengklaim wilayah yang terletak di sebelah timurnya sebagai daerah kekuasaan kerajaan ini. Pengakuan sepihak ini sebagai upaya untuk melegitimasi politik ekspansif (perluasan wilayah kekuasaan) yang dilakukan terhadap kerajaan-kerajaan Lombok, sehingga tidak ada pihak yang dapat rnengganggu.

Bali, merupakan basis terkuat dari sisa-sisa Majapahit setelah datangnya kekuasaan Islam di Jawa. Islam kemudian tidak tersentralisasi pada satu wilayah (Jawa) tetapi juga perkembangannya merambah sampai ke wilayah timur Jawa, termasuk Pulau Lombok. Ini juga yang menyebabkan Bali ingin menguasai Lombok.

BACA JUGA: Resep Masakan, Cara Membuat Sate Taichan Cocok Untuk Menu Makan Siang


Untuk meraihnya, Geigel terus melakukan penyerangan lewat laut sejak tahun 1520. Tindak tanduk Geigel ini membuat kerajaan Kayangan Lombok merasa terganggu dan tidak nyaman, karena itu Deneq Mas Kerta Jagat (adik Deneq Mas Kamala Jagat) memindahkan pusat pemerintahannya ke wilayah yang lebih dalam, dilereng Rinjani (pertengahan awal abad XVI). Selanjutnya, lebih dikenal sebagai Selaparang, yang diteruskan oleh putranya Deneq Mas Kerta Bumi (diperkirakan menjelang abad XVII).


Akan tetapi beberapa penyerangan awal ini tidak pernah mendapatkan hasil yang diinginkan, karena selalu bisa dipatahkan oleh Selaparang yang merupakan kerajaan induk dari kerajaan-kerajaan di
Lombok. Selain karena Selaparang, faktor pertahanan rakyat Sasak adalah karena adanya bantuan dari pihak kerajaan Gowa di Makasar. Hal ini membuat Geigel melakukan strategi penyerangan lain, yaitu dengan mengirimkan rakyatnya menuju Lombok sebelah barat dan kemudian menjadi cikal bakal dari kerajaan Kediri, Kuripan, dan Sekongo.

Kemenangan Belanda dan sekutu Bugis atas Gowa berpengaruh besar terhadap pertahanan Selaparang, sejak itu Geigel yang sudah sejak lama berambisi menguasai Lombok semakin mendapat kesempatan mudah untuk melakukan ekspansinya. Dengan segera mungkin memanfaatkan momentum ini, Geigel mengirim pasukannya yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dan kerajaan Karangasem di Bali dinyatakan berdiri secara resmi, 1660. Mereka membuat pangkalan di Pagutan dan Pagesangan, tahun 1690, di bawah koordinasi kerajaan Karangasem. Ekspedisi itu kemudian dilanjutkan dengan utusan berupa pasukan pendahulu yang beragama Islam, yaitu patih Arya Sudarsana yang menyusup langsung ke pusat kerajaan Selaparang di timur.

Selaparang tidak mudah percaya untuk mengambil langkah kooperatif terhadap pasukan yang diutus Karangasem. Alih-alih mengutus orang yang sekeyakinan (sama-sama Islam), akan mudah mendapat simpati, justru konflik antara pasukan Arya Sudarsana dengan pihak Selaparang tidak dapat dihindarkan. Konflik mengarah menjadi peperangan, yang akhirnya pasukan Arya Sudarsana terdesak keluar dari wilayah Selaparang atas bantuan Sumbawa di bawah Arnasa Sarnawa (1723-1725).

BACA JUGA: Resep Makanan: Cara Membuat Es Krim 2 Rasa Dengan Mudah


Tidak cukup itu, pasukan Sumbawa rnengejar sampai Suradadi (wilayah bagian timur Lombok barat sekarang) yaitu di Reban Talat, tetapi Arya Sudarsana tidak berhasil ditangkap. Bekas prajurit Sumbawa sebagian memilih menetap di Lombok dan merupakan nenek moyang dari penduduk desa Rempung, Jantuk, Seren Rumbuk, Kembang Kerang Daye, Kuang Berore, Moyot, dan yang lain merupakan penduduk yang berbahasa Taliwang dan hingga sekarang masuk ke wilayah pemerintahan daerah Lombok Timur.

Seiring berjalan waktu, pasukan dan bekas prajurit dari Sumbawa yang terdiri dari beberapa orang Taliwang dan suku Sasak Lombok saling berbaur. Dari pembauran ini kemudian muncul budaya baru, baik dalam bersosialiasi maupun pengolahan makanan yang saling disesuaikan antara pasukan Taliwang dan masyarakat asli Lombok. Dan dari sinilah sajian ayam taliwang tercipta.

Sekarang, ayam taliwang dikenal luas sebagai khas Lombok dan tersebar di Nusantara khususnya kota-kota besar. Karena itu, kuliner ayam taliwang sebagai budaya masyarakat perlu diinventarisasi, diproteksi, dan dilestarikan agar tidak musnah tergerus zaman. Karena dari sini kita belajar, bahwa perjuangan masa lalu bernilai dan sangat berharga untuk masa yang akan datang. Dari belajar sejarah, kita bisa tau apa saja yang telah lahir, dan dari sebuah resep masakan saja, sejarah nya sangat panjang dan banyak perjuangan yang telah di lewatkan.

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait