Bung Hatta sosok 'Bapak Bangsa Sejati'

Pendidikan —Senin, 16 Aug 2021 15:41
    Bagikan  
Bung Hatta sosok 'Bapak Bangsa Sejati'
Image/ Pinterest

MANDALIKA, DEPOSTMANDALIKA

Dr. (H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta yang lebih dikenal dengan nama Bung Hatta adalah salah satu pahlawan nasional yang sangat berjasa. Beliau merupakan negarawan dan ekonom Indonesia yang menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia yang mendampingi Ir. Soekarno dalam memimpin bangsa.

Sosok pejuang yang disebut sebagai “Bapak Bangsa Sejati”, beliau memperkenalkan nama Indonesia saat memimpin delegasi Kongres Demokrasi Internasional pada tahun 1926, untuk perdamaian di Berville, Perancis. Bung Hatta sangat menentang imperialisme dan kolonialisme Belanda, sehingga kata-katanya yang bijak dapat memberi sugesti masyarakat untuk ikut berjuang melawan penjajahan.

Karena kewibawaan beliau sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta memperjuangkan Perjanjian Renville hingga berhasil dan mengakibatkan Kabinet Amir jatuh yang kemudian diganti Kabinet Hatta. Pada era Kabinet Hatta yang dibentuk 29 Januari 1948, Mohammad Hatta menjadi Perdana Menteri dan merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan.

Kemudian, setelah dilakukannya perundingan penting, Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diadakan di Den Haag telah berunding selama 3 bulan, dan akhirnya pada 27 Desember 1949 kedaulatan NKRI menjadi milik kita untuk selamanya. Sehingga negara Indonesia menjadi negara Republik Indonesia Serikat (RIS), Bung Hatta terpilih sebagai Perdana Menteri RIS dan merangkap sebagai Menteri Luar Negeri RIS yang berkedudukan di Jakarta dan Bung Karno menjadi Presiden RIS. Namun RIS tidak berlangsung lama, pada 17 Agustus 1950 Indonesia menjadi NKRI dan Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden RI.

Baca juga: Ramalan Zodiak Senin 16 Agustus 2021 Taurus Tidak Bisa Mengendalikan Perasaan, Libra Merasa Kecewa dengan Keadaan

Baca juga: Setiap Bulan Suro, Budayawan Jawa Lakukan Ritual Jamasan Pusaka


Diketahui pada tahun 1955, Bung Hatta membuat pernyataan bahwa bila parlemen dan konstituante pilihan rakyat sudah terbentuk, beliau akan mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Menurut beliau, negara yang mempunyai kabinet parlementer, Kepala Negara adalah sekadar simbol saja, sehingga Wakil Presiden tidak diperlukan lagi. Kemudian Mohammad Hatta menulis sepucuk surat kepada Ketua DPR Sartono, 20 Juli 1956, yang isinya antara lain, "Merdeka, Bersama ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, setelah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi."


DPR mendiamkan surat tersebut sebagai bentuk penolakan halus. Tetapi, pada 23 November 1956, Bung Hatta kembali menulis surat susulan yang isinya sama, dan memberitahukan bahwa pada 1 Desember 1956, beliau akan berhenti menjadi Wakil Presiden RI. Akhirnya, DPR menyetujui permintaan Bung Hatta setelah menjabat selama 11 tahun menjadi Wakil Presiden Indonesia pada sidang DPR 30 November 1956.

Bung Hatta juga sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Perhatian beliau yang mendalam terhadap penderitaan rakyat kecil mendorongnya untuk mempelopori Gerakan Koperasi yang berprinsip memperbaiki nasib golongan miskin dan kelompok ekonomi lemah. Beliau juga dikenal sebagai ilmuwan yang gemar membaca. Kecintaan terhadap buku telah melahirkan gagasan serta pemikiran yang luar biasa tentang kebangsaan. Dan untuk sekarang, kita penerus bangsa bisa meneladani 'Bapak Bangsa Sejati' kita. Ini beberapa kata-kata motivasi dari beliau:

1. Perjuanganku melawan penjajah lebih mudah, tidak seperti kalian nanti. Perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri.

2. Untuk mencapai cita-cita yang tinggi, manusia (pahlawan) melepaskan nyawanya pada tiang gantungan, mati dalam pembuangan, tetapi senantiasa menyimpan dalam hatinya luka wajah tanah air yang duka.

3. Membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna.

4. Filosofi meluaskan pandangan serta mempertajam pikiran, sekaligus berguna untuk menerangkan pikiran dan penetapan hati.

5. Biarlah pengalaman masa lalu kita menjadi tonggak petunjuk, dan bukan tonggak yang membelenggu kita.

6. Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-citanya.

7. Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki.

8. Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.

9. Malahan kita berada pada permulaan perjuangan yang jauh lebih berat dan lebih mulia, yaitu perjuangan untuk mencapai kemerdekaan daripada segala macam penindasan.

10. Tak ada harta pusaka yang sama berharganya dengan kejujuran.

Bagaimana teman-teman? Sudah mau berjuang dalam pendidikan? Bapak Mohammad Hatta telah banyak melahirkan gagasan serta pemikiran yang luar biasa tentang kebangsaan loh, karena kecintaan beliau terhadap buku. Apalagi kita, generasi Z yang zamannya sudah maju pasti bisa meneruskan perjuangan tokoh-tokoh terdahulu. Yuk semangat! (HT)

Baca juga: Di Hari Jadi Ke-71 Pemprov Jateng, Ganjar Serahkan Ribuan Paket Sembako

Baca juga: Salesman Hebat (Parts 2), Cara Jitu Cari Uang atau Karir Sesuai Ajaran Nabi

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait