Sikap Madrid dan PSG dalam Kemasan Meditika

Sepak Bola —Rabu, 13 Oct 2021 10:45
    Bagikan  
Sikap Madrid dan PSG dalam Kemasan Meditika
Sikap Madrid dan PSG dalam Kemasan Meditika/ Pinterest

MANDALIKA, DEPOSTMANDALIKA

Oleh: Amir Machmud NS

SELALU ada yang “baper” (bawa-bawa perasaan) di tengah dinamika industri profesionalisme sepak bola yang bergerak kencang.
Artinya, sifat-sifat dasar naluri manusia tak pernah sepenuhnya bisa terhindarkan. Artinya pula, profesionalisme tak boleh mengabaikan hati dan rasa. Bukankah pemain bola adalah juga manusia? Klub menjadi rumahnya. Lingkungan mempengaruhinya. Dan, adat istiadat dalam interaksi kuat tetaplah mengikat.

Maka, terkadang muncul kegelisahan pemain yang menginginkan pindah klub karena alasan-alasan tidak kerasan, ingin menemukan kegembiraan di rumah yang baru, atau bisa pula merancang masa depan kesejahteraan hidup yang lebih menjanjikan (karena ada tawaran finansial yang lebih menggiurkan).

Di antara dinamika-dinamika itu, ada hukum tak tertulis, antara klub yang satu dengan klub lainnya punya “hubungan khusus” dengan tingkat sensitivitas, pantangan, dan tradisi untuk saling menghormati. Pemain yang “menyeberang” menjadi pantangan, yang apabila ditabrak bisa merusak rambu-rambu yang “disepakati”; berpotensi memunculkan kompleksitas kontraksi dalam hubungan antara kedua klub, serta hubungan sang pemain dengan suporter klub lamanya.

Rumus ketat ini berlaku untuk misalnya, antara Barcelona dengan Real Madrid, Manchester United dengan Manchester City, atau AC Milan dengan Inter Milan. Klub-klub itu punya tensi perseteruan yang dilatari luka rivalitas dari sejarah masa lalu.
Kata-kata “derby” atau perang saudara menjadi isyarat betapa di dalamnya termaktub hubungan yang sangat menegangkan. Selalu ada bara di dalam sekam. Orang Spanyol menyebutnya el clasico yang memadukan aneka makna historika, politika, dan kehormatan.

Baca juga: Belajar Sejarah di Taman Narmada Dengan Udara yang Sejuk

Baca juga: Berikut 5 Rekomendasi Wisata Yogyakarta yang Wajib Dikunjungi


Ketegangan Profesional

Nah, jangankan dalam lingkup derby yang penuh kontraksi, hubungan profesional terkait kepindahan seorang pemain pun bisa menimbulkan ketegangan tertentu. Apalagi kalau itu bertangsung antara dua klub yang membangun harga diri dengan kekuatan uang.
Letupan perasaan ini pernah terjadi antara Barcelona dengan Paris St Germain ketika Neymar Junior direkrut ke Ligue 1 pada 2017. Juga ketika Gianluigi Donnarumma yang sebenarnya sudah habis masa kontrak dengan AC Milan pada 2021 mengingini karier baru di PSG. Dan, sekarang menyangkut Kylian

Mbappe, yang memang sudah lama mengimpikan bermain untuk Real Madrid, namun hingga sekarang Les Parisiens tetap mempertahankannya.
Kini sejumlah pernyataan dan gestur kehendak Mbappe itu mulai mengusik hubungan PSG dengan Madrid. Apalagi sejak masih ditukangi oleh Zinedine Zidane. El Real telah menunjukkan gelagat menarget pemain terbaik Prancis itu. Keinginan itu tak surut ketika Carlo Ancelotti menggantikan Zizou.

Madrid makin terang-terangan menunjukkan hasrat, bahkan sudah mengisyaratkan bakal beroperasi pada bursa transfer Januari mendatang. Pihak PSG sebagai klub yang sama-sama berlatar belakang finansial kuat pun merespons dengan penuh kegusaran.

Madrid dikabarkan sudah pernah menawarkan angka 160 juta euro, tetapi PSG menolak dan menegaskan “Mbappe not for sale”. Padahal andai melewati batas berakhirnya kontrak pada Juni 2022, sang striker bisa bebas mencari klub per Januari 2022.

Pernyataan bos Real Madrid, Florentino Perez yang dikutip El Debate menyulut ketersinggungan para eksekutif PSG. Perez menyatakan, pihaknya siap bergerak mengamankan eks striker AS Monaco itu. “Kami akan mendapat kabar soal Kylian Mbappe Januari nanti. Kami harap semuanya bisa dituntaskan per 1 Januari,” katanya, sambil menambahkan tetap menghormati PSG.
Direktur Olahraga PSG, Leonardo Araujo lewat L’Equipe menanggapi, bahwa pernyataan itu merupakan contoh lain Madrid tidak punya rasa hormat kepada klub dan Kylian Mbappe.

Mantan pemain nasional Brazil itu memaparkan fakta, pada minggu yang sama pemain Real Madrid Karim Benzema, pelatih Carlo Ancelotti, dan sekarang Presiden Florentino Perez bicara tentang Mbappe seolah-olah sudah menjadi bagian dari mereka. Leonardo menegaskan, “Saya ulangi: ini adalah kurangnya rasa hormat yang tidak bisa kami toleransi”.
“Baper” itu telah merembet ke mana-mana, termasuk ke Kylian Mbappe. Dia, yang semula diproyeksikan menciptakan trio maut besama Lionel Messi dan Neymar, tampak tidak terlalu gembira bertahan bersama Les Parisiens.
Angan-angan pemain yang sering dipanggil “Donatello”, tokoh dalam animasi Kura-Kura Ninja itu adalah bermain untuk Los Blancos. Striker yang sudah membukukan 136 gol untuk PSG itu berharap menjadi bagian dari Los Galacticos bersama Karim Benzema, Vinicius Junior, Rodrygo, Eden Hazard, dan Casemiro.

Kondisi “baper” di tengah usikan keinginan hijrah, dan mulai gerah dalam atmosfer klub tentu bisa mempengaruhi performa seorang pemain, sebintang apa pun dia. Maka, yang akan rugi bukan hanya dia sendiri, tetapi juga klubnya, karena dia tidak lagi dalam kondisi “form”.
Kita tunggu drama itu berproses, lalu skenario apa yang akan makin memanaskan relasi di langit Santiago Bernabeu dan Parc des Princes.
Yang jelas, andai boyongan Mbappe ke Madrid betul-betul terjadi, setiap pertemuan kedua klub di ajang Eropa bakal menciptakan drama-drama panas. Begitulah agaknya industri bola, media, dan budaya pop mengemasnya.

--- Amir Machmud NS, wartawan senior, kolumnis sepak bola, dan peniulis buku.

Baca juga: Kisah Misteri, Konon Pada Malam Jumat Kliwon Arwah Leluhur Datang ke Rumah? Berikut Mitos-Mitos Malam Jumat Kliwon

Baca juga: Pantai Tanjung Bloam, Wilayah Konservasi Penyu Dengan Pemandangannya yang Membuat Takjub

Editor: Rere
    Bagikan  

Berita Terkait